Mereka masih berjoget

Sepintas kata yang pernah hobi berjoget. Lalu tersadar, lalu berhenti, lalu teringat tuk mengingatkan. #saveyourself

Mereka berjoget, tampak tak ada niat untuk berhenti. Sedari pagi hingga tengah malam, bahkan terkadang subuh-subuh pun masih setia dengan joget.

Seolah kesusahan hidup yang kadang terucap di warung kopi pinggiran kota hanya dusta. Ketika alunan musik mampu meruntuhkan perkara – perkara pelitnya kehidupa maka hanya senyum, yang lalu melebar, hingga kaki pun tak lepas darinya.

Biasanya, dulu saya akan cukup betah menyaksikan acara semacam ini. Dimana, kesenangan itu terasa nyata. Setidaknya, pikiran itu pernah mendominasi. Melupakan sejenak, dan benar-benar terhibur.

Itu kondisi saat lalu, ketika hiburan semacam ini mungkin aku butuhkan atau memang tak pernah tubuh ini butuhkan.

Kemudian berubah, begitu saja (atau terusik lalu memilih mengusir aktivitas itu), ketika televisi kini tak lagi menjadi seorang teman, joget itu kian ramai saja. Dan, yang berbeda. Aku tak menemukan kesenangan yang kurasakan beberapa bulan yang lalu. Sepertinya saya pernah terperdaya.

Apakah ini semacam hiburan atau benar-benar pencuci otak ?!

Dan suatu hari nanti, saya harus menulisnya dengan cara yang lebih beretika, namun saat ini, perut saya seoalah diguncang. Jadi saya ingin tidur.